Yunho hanya menatap memo itu sambil tersenyum. Baru kali ini iya menemukan seseorang yang benar- benar baik serta tulus padanya selain junsu. "Hebat anak itu bisa membersihkan rumah ini dengan sangat mengkilap. Benar-benar terkejut aku dibuatnya."
****
"Bagaimana? Apakah pekerjaan itu berat?"
"Ani, junsu. Sangat ringan bahkan aku hanya perlu membersihkan rumahnya, dan memasak. Seperti bekerja untuk rumah sendiri!"
Mereka berdua sedang santai duduk di ruang tamu milik junsu. Rumahnya tidak terlalu besar tapi terlihat nyaman. Seluruh ruangan berwarna putih, hanya putih dan perabotan berwarna hitam.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?" Tanya junsu pada jae lalu meneguk minumanya.
"Hanya ingin tidak melakukan apapun.... Aku ingin menikamati hari ini. Jarang-jarang aku bisa bersantai dirumah."
"Bukannya setiap hari kau juga hanya bersantai dirumah saja?"
"Maksudku dirumahmu..."
"Ehm.... Aku harus pergi menyelesaikan tugas kantorku. Bisa tolong jaga rumah?"
"Boleh." Jawab jaejoong lembut "Tapi satu jam seharga 100.000, setuju?" Jaejoong tersenyum licik.
"Jangankan seharga itu.... Lebih dari itupun aku tak ingin membayarnya." Junsu merogoh sakunya handphonenya bergetar, dan membuka pesan yang tertera di handphonenya. "Sepertinya aku harus pergi sekarang! Nanti pulang akan ku belikan permen dan pizza untukmu." Kata junsu lalu pergi dari hadapan jaejoong.
Seharian jaejoong seharian hanya tidur seperti kucing. Dia terbangun karena seseorang menekan bell dan membuatnya kesal "Siapa yang kurang kerjaan mencari junsu,sih?" Dengan mata masih setengah trtutup jaejoong melangkahkan kainya kedepan pintu dan membukanya.
Yunho tersenyum manis saat pintu terbuka. Senyum yang sengaja ditatanya dihari yang menyedihkan ini, tapi yang dilihatnya bukan junsu melainkan jaejoong. Walaupun jaejoong bekerja denganya tapi mereka sama sekali jarang bertatap muka, Jaejoong selalu datang setelah yunho berangkat kerja dan pulang sebelum yunho pulang kerumahnya, yang ditemukan yunho hanya memo kecil setiap hari. "Hei..." Seru yunho sambil mengikutu jaejoong yang tidak memperdulikannya. 'Anak ini dingin,tertutup, atu apa? Kenapa junsu bilang boojae itu ceria dan baik hati? Aslinya seperti ini' Seru yunho dalam hatinya. Padahal yunho datang malam-malam karena ia ingin bercerita pada junsu kalau dia baru saja mendapatkan sebuah musibah hari ini.
"Silahkan duduk." Kata jaejoong lau pergi ke dapur, meninggalkan yunho.
"Ternyata aku salah telah datang kesini." Kata yunho pelan seperti berbisik, yunho malah asik menikmati kesedihanya sampai tidak sadar jaejoong telah duduk disampingnya.
"Ehm....."
Suara itu membuat yunho tersentak dari lamunanya.
"Kalu melamun,ya?" Tanya jaejoong sok polos. "Junsu belum pulang. Aku juga tidak tahu kapan dia akn pulang, kalu mau kau bisa menunggunya disini." Lanjut jaejoong dingin.
Perkatan jaejoong benar-benar membuat yunho marah. Sudah patah hati, yunho malah harus berhadapan dengan jaejoong yang sedang terganggu moodnya karena tidurnya yang terganggu. "Baiklah! aku akan menunggunya sampai dia pulang!" Nada suara yunho naik 1 oktaf.
"Kau tidak perlu sampai menaikkan nada bicaramu seperti itu." Komentar jaejoong "Walaupun kau sedang patah hati sekalipun."
Perkatan jaejoong benar-benar membuat yunho sadar jika ia salah "Mainhae,jae! Aku sedang sedih kau malah membuatku marah. Apalagi jika sikapmu sangat dingin seperti itu."
"Itu salahmu karena menganggu tidurku." jaejoong mangabil minuman dingin yang ada diatas meja dan langsung meneguknnya tanpa sisa. "Sudahlah kau tidak perlu bersedih lagi. Bukan karena aku senang jika kau putus. Maksudku jika kita putus atau mengalami duka itu artinya akan ada sesuatu hal yang kan mengganti kesedihan kita hari ini." Jaejoong tersenyum lebar.
"Tapi aku sangat mencitainya,jae! Hatiku benar-benar terluka, dan rasanya sangat sakit sekali."
"Jadi apa yang akan kau lakukan? Bunuh diri?"
"YAH yang benar saja! Aku masih waras tidak mungkin aku bunuh diri karena cinta saja."
"Itu artinya kau tidak tidak sepenuh hati mencintainya."
"Aku hanya tidak habis pikir apa yang kurang dariku sampai ia pergi dengan namja lain."
"Sudahlah......." Jaejoong bangkit dari duduknya "Aku lapar! aku mau makan diluar! Kau boleh tetap disini bersama kesedihanmu, jika kau mau."
Jaejoong berjalan pelan keluar rumah diikuti yunho disampingnya. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka berdua. Jaejoong duduk dan memesan makanan, yunho pun ikit duduk tapi ia hanya memesan sake. Sepanjang jaejoong makan yunho hanya sibuk mengahabiskan isi sake sampai ia mabuk.
"Yunho....." Jaejoong menggoyang-goyangkan tubuh yunho, tapi yunho sama sekali tidak merespon.
Hujan turun membasahi bumi. Jaejoong terpaksa mengendong tubuh manja tampan yang menjadi majikkannya, sambil harus berhujan-hujannya ditengah malam.
"YAH!!!! JUNG YUNHO BISANYA KAU MABUK DAN AKU TERPAKSA MENGGENDONGMU.......... WANITA SEPERTI APA YANG BISA MEMBUATMU SEPERTI INI???"
Jaejoong sibuk mengoceh sendiri sepanjang perjalanan kerumah yunho. Seberanya ia mau kerumah junsu tapi junsu pasti akan sangat khawatir mendapatinya dengan keadaan seperti ini, bisa-bisa junsu akan menyuruhnya diam duduk dirumah tanpa melakukan apapun, mengingat junsu sangat protektiv terhadapnya.
"KAU KIRA BERAT TUBUHMU RINGAN SEPERTI KAPAS APA? KENAPA KAU TIDAK MEMIKIRKAN ORANG YANG ADA DISEKITARMU SEBELUM BERTINDAK???"
Jaejoong meletakkan yunho diatas tempat tidur dengan baju yunho yang masih basah. Tiba-tiba pandangannya kabur dan ia pun pingsan. Tubuhnya melekat dengan tubuh yunho.
****
Saat yunho terbangun dari tidurnya, ia merasakan 2 hal pertama kepalanya yang terasa sangat pusing dan yang kedua seseorang berada diatasnya. Betapa terkejutnya dia saat membuka matanya. Dilihatnya wajah cantik jae yang berada diatasnya. Yunho menarik tubuh jaejoong hingga tubuh itu berada sisampingnya.
"Jae..." kata yunho sambil duduk diatas tempat tidur dan menggoyang-goyang tubuh jaejoong. Saat tanganya menyentuh tubuh jaejoong dirasakannya suhu tubuh jaejoong yang sangat tinggi. "Jae, kau sakit!" yunho langsung menyentuh dahi jae. "Benar suhu tubuhmu sangat tinggi." Yunho ingin bangkit dari duduknya namun sebuah tangan menariknya.
"Ku mohon jangan sampai junsu tahu aku sakit. Dia pasti akan sangat khawatir." Kata jaejoong lemah.
"Tenanglah! aku tidak akan memberi tahu junsu. Istirahatlah... Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Yunho berlari keluar dari kamarnya dan langsung menghubungi changmin, chanmin adalah dokter kepercayaan keluarga jung.
****
"Dia hanya demam biasa..." Kata dokter yang berwajah anak-anak itu "Jangan lupa suruh dia minum obat teratur, agar cepat sembuh."
"Baiklah dokter."
"Saya permisi..." Kata dokter changmin meningalkan kamar.
*****
Nasib jae beruntung sekali. Kantor junsu memberi junsu tugas keluar kota, sehingga junsu tidak mengetahui kalau jaejoong sakit. Selama sakit yunho merawat jaejoong dengan sangat baik. Ternyata yunho lebih cerewet saat merawat jaejoong, dia selalu saja memaksa jaejoong memakan buburnya dan meminum obatnya. Padahal jaejoong sama sekali tidak memiliki nafsu makan karena mulutnya terasa pahit sekali.
"KAU HARUS MAKAN!" Yunho membentak jaejoong yang dari tadi membungkam mulutnya. "PERLU AKU MENELEPON JUNSU?" yunho mengambil handphonenya.
"ANDWE..." jaejoong cepat-cepat mengambil bubur yang ada diatas meja, dan menyuapkannya ke dalam mulutnya. "Lihat aku sudah makan." jae menunjukkan mangkok buburnya yang sudah sedikit berkurang.
"Jangan lupa minum obatnya. Walaupun demam mu sudah reda tapi jika obatnya belum habis itu berarti kau belum benar-benar sembuh!" yunho meniup-niup kopinya, lalu menyerup kopinya.
Jaejoong hanya memajukkan bibir bawahnya mendengar ucapan yunho.
Hari-hari mereka lalui bersama dengan cekcok yang tiada akhir. Seperti pagi ini. Yunho duduk dikursi yang sama setiap hari "Jangan lupa minum obatmu!" kata yunho lalu berdiri dari duduknya, meninggalkan peralatan makannya.
"YAH, JUNG YUNHO!!"
"Mwo?" yunho membalikkan tubuhnya menghadap jaejoong.
"Bersihkan alat makanmu."
"Kan ada dirimu yang ku bayar untuk membersihkan rumah."
Jaejoong berdiri dari duduknya dan berkacak pinggang "Bagaimana kau bisa menyuruh orang sakit membersihkan rumah?" Jaejoong menunjukkan wajahnya yang sepertinya tak bertenaga.
"OK.... kau menang! Akan aku bereskan alat makanku." Yunho kembali lagi kemeja makan dan membawa alat makannya dengan wajah asam.
****
Jaejoong sedang duduk disofa sambil menonton tv. Yunho datang dang langsung duduk disampimg jae, sambil berusaha mengurangi jaraknya dengan jaejoong. Setelah jaraknya dengan jaejoong hanya 2cm "Aku lapar! buatkan makanan." pinta yunho merengek-rengek.
"Kau kan bisa membeli makanan, kepalaku sedikit pusing jika berdiri terlalu lama." komentar jaejoong sok cuek dengan tingkah yunho yang bermanja-manja padanya. Walaupun ia merasa jantungnya berdetum sangat keras mengentam dadanya.
"YAH yang benar saja. Obatmu telah habis itu artinya kau telah sembuh! Aku lapar jaejoong." rengek yunho sambil menumpahkan berat tubuhnya ke jaejoong. "Kalau kau tidak mau memasak aku akan mencium sekaligus memakanmu."
Kata-kata yunho membuat jaejoong langsung berdiri dan berjalan ke dapur. Sementara yunho tersungkur akibat jaejoong bangun tiba-tiba. 'Yah, batal diriku mencium aibir merah itu.' seru yunho dalam hatinya.
Selesai makan yunho membantu jaejoong membersihkan alat-alat makan.
"Lap dengan bersih, dan benar-benar kering." kata jaejoong lalu meninggalkan yunho yang sedang mengelap peralatan makan.
"YAH, yang benar saja! Sebenarnya aku atau dia yang berkerja dirumah ini?” keluh yunho. Walaupun mengeluh tetap saja yunho melakukan apapun yang dikatakan boojae. Boojae itu panggilan sayang yunho buat jae. Tapi menurut jae panggilan itu menarik.
Selama hampir 2 minggu ini jaejoong tinggal dengan yunho. Sekarang jaejoong sudah sembuh dari sakitnya, namun yunho menyuruhnya tinggal dirumanya. Walaupun alasan utama yunho menyuruh jaejoong tinggal dirumahnya karena yunho sudah memiliki sedikit rasa yang tumbuh pada jaejoong , tapi jaejoong tidak mengetahui rahasia yang disimpan yunho dan junsu.
Junsu juga tahu jaejoong sakit karena harus berhujan-hujannan mengantar yunho, namun kantornya menugaskannya keluar kota. Junsu pun tahu kalau sejak dulu yunho sudah memiliki rasa pada sepupunya yang berwajah cantik lebih dari banyak wanita. Hanya saja dulu yunho tahu tentang jaejoong melewati junsu, namun pada saat itu yunho masih memiliki hubungan dengan yoochun.
****
“Kenapa harus kesana? Inikah ulangtahunku junsu!” Manja cantik ini sedang menghias kue ulangtahunya. Dihiasnya kue itu dengan sangat cantik, kue yang memiliiki bunga mawar disisinya.
“Sudahlah, aku akan menyusulmu disana.”
“Aku tidak mau kesana………”
“YAH!!! Kim jaejoong, ulangtahun yunho denganmu tidak terlalu jauh bedanya.” Junsu menarik napasnya dalam-dalam. “Kau mau bersembunyi seperti apa lagi? Apa kau kira aku tidak tahu apa yang kau rasakan terhadapnya?”
“Ini hanya perasaan yang salah junsu. Tidak mungkin aku menyukai seorang namja yang menjadi majikanku. Aku harus menghapus perasaan ini.” Jejoong menaikkan nada bicaranya. “Bayangkan namja dengan namja itu hal aneh!!!!”
“Apa salahnya dengan menyukai seorang namja? Aku tidak pernah berpikir kalau dirimu tidak normal,joongie! Perasaan itu karunia dari tuhan.” Suara junsu mendayu-dayu. *_*
Jae hanya dapat diam mendengar ucapan junsu. Jaejoong tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut sepupunya. Bagaimanapun dia senang sepupunya tidak berpikir kalau dia salah karena memiliki perasaan seperti itu.
“Baiklah aku akan pergi kesana…..” seru jaejoong lemah, lalu menekan tombol berwarna merah di handphonenya, kemudian memasukkan benda mungil itu kedalam sakunya. Jaejoon malas jika harus berdebat dengan junsu, apalagi jika harus melihat wajah polosnya yang seperti tanpa dosa itu. Walaupun junsu kadang-kadang lebih menuruti jaejoong.
****
Jaejoong melangkah pelan turun dari bus dan berjalan kearah rumah yunho, dengan sekotak kue ditangannya. Dibukanya pagar yang setinggi bahu orang dewasa itu, dengan mantap dilangkahkan kakinya. ‘Yunho pasti sedang tidak ada dirumah pada saat-saat seperti ini.’ Pikir jaejoong.
Jaejoong merogoh sakunya, meraih kunci dengan gantungan mawar hitam yang terbuat dari alumunium. Dibukanya pintu itu dan masuk kedalam ruangan. Namun saat dia masuk kedalm ruangan ia mendengar suara orang yang sedang berdebat. Jaejoong hanya mampu dia berdiri ditempatnya berpijak.
“Aku masih mencitaimu yunho, maafkan aku! Aku baru tahu min tidak sebaik yang aku bayangkan.” Yoochun menggenggam tangan yunho. “Yunho….” Seru yoochun. “Apakah kita tidak bias lagi kembali seperti dahulu???”
“Ani, aku tidak bias lagi bersamamu.”
"Waeyo, yunho??" ada sebutir air yang mulai akan jatuh bersusah payah yoochun menahan air matanya. "Apakah semua karena pembantumu itu? Aku lebih pantas ada disisimu, daripada dirinya yang hanya seorang pembantu." Perasaan yoochun benar-benar bercampur aduk.
"DIAM YOOCHUN!" Bentak yunho. "Apa yang kau tahu tentang boojae? Apa kau perduli denganku? Dulu kau meninggalkan ku seperti sampah yang tak ada artinya bagimu! Dan kau pergi begitu saja dengan changmin."
Dada yunho benar-benar terasa sangat lapang setelah mengucapkan semua isi hatinya. Semua derita yang ditanggungnya selama ini. "Aku memang menyukai boojae lebih dalam dari yang aku sadari. Aku tidak pernah menganggapnya seperti pembantuku! Aku menganggapnya seperti istriku, walaupun dia tidak mencintaiku itu bukan masalah bagiku."
Yoochun benar-benar shok mendengar semua yang dikatakan yunho. Yunho miliknya kini sudah tidak ada lagi. Yunho yang selalu tersenyum padanya. Yunho yang selalu mencintainya walaupun yoochun sering sekali berselingkuh. Yunho yang selalu memanggilnya chunnie. Yunhonya.....
Tak terasa airmata yang sudah bersusah payah ditahannya akhirnya mengalir membasahi pipinya, yoochun langsung pergi tak ingin yunho melihatnya terpuruk. Saat yoochun pergi meninggalkan yunho, dia melihat seseorang yang sangat cantik di depan pintu.
Yunho membalikkan tubuhnya, melihan yoochun pergi. Betapa terkejutnya yunho melihat jaejoong berdiri di dekat pintu, tubuh jaejoong berdiri tegak dengan raut wajah yang berada diantar bahagia dan kesedihan. Kue yang dibawanya telah mendarat dilantai. Entah bagaimana bentuk kue yang didalam kotak itu.
#JAEJOONG POV
Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi barusan. Aku tidak tahu juga harus bersikap seperti apa, semuanya terasa aneh. Aku baru saja merusak hubungan yunho, namun yunho mencintaiku. Bagaimana bentu wajahku yang sekarang. Ku langkahkan kakiku ingin pergi dari situasi ini, namun tangan besar dan kokoh itu menarik tubuhku kedalam pelukkannya.
"Jangan pergi!!! Ku mohon." Katanya sambil memeluk erat tubuhku.
Aku hanya bisa diam saja mendengarnya berbicara. Aku sendiri tidak tahu harus bagaimana. Entah harus bersedih atau senang setengah mati. Awalnya ku pikir hanya aku yang menyukainya tapi ternyata aku salah. Dia menyukaiku juga! Itu suatu keajaiban yang sangat tak terduga.
"Kau mau terus memelukku sampai kapan??? Napasku haa....mpi...r h...a..b...is...." kataku terbata-bata.
"Mianhae,boojae." Yunho melepas pelukkannya dan langsung mengenggam tanganku.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku sinis menutupi rasa malu ku.
"Kau menyukaiku kan?!"
"MWO?" jawabku kaget setengah mati sejak kapan dia tahu aku meyukainya?
"Kalau kau tidak menyukaiku pasti kau akan langsung kabur setelah mendegar pembicaraan ku dengan orang itu! Tapi nyatanya kau masih disini. Itu artinya kau meyukaiku." Kata-kata yunho penuh percaya diri. "Lagian junsu juga bilang kau menyukainku." lanjut yunho.
'Junsu awas kau! KAU AKAN MATI SAAT AKU BERTEMU DENGANMU........' kataku membatin. Aku hanya bisa mengangguk saja, sebagai tanda iya. Yunho tersenyum dan langsung megecup bibirku kilat.
"Saranghae boojea..." katanya membuat pipiku merona merah. "Sangeil cukkahamnida boojae...." lanjutnya lagi dan memeluk tubuhku....
====epilog====
"Mau apa datang kemari?"
"main!" jawabnya polos. "Tapi sepertinya tidak jadi main! Aku akan menikah dengan sepupumu,saja!"
"Mwo?" Anak kecil yang berusia 8 tahun dan chabi ini sangat terkejut mendengar ucapan temannya, sampai mobil-mobilan yang ada ditanganya terlepas, dan mendarat dilantai.
"Sepupumu sangat cantik!"
"Dia namja bukan yeoja."
"Aku tidak perduli rasaku sama saja,junsu."
"Terserahmu..... Aku tidak perduli." Jawab junsu cuek karena tidak tahu maksud ucapan yunho yang ada diotaknya hanya mainan saja.
"Dasar pabo." kata yunho sambil melihat sepupu junsu yang sedang asik menontok tv, dan memakan cemilan.
Tamat ^^
Mianhamnida kalau jelek ya
ini pertama X nulis yunjae
Tidak ada komentar:
Posting Komentar